Langit yang menghitam kini berubah menjadi medan akhir yang mengerikan. Dua kekuatan mematikan telah dilepaskan dalam waktu yang nyaris bersamaan. Tombak Nirwana Langit yang dibentuk Yi Wushen bersama Mei Lianhua dan Gong Nanlie menyembur maju, meledak dengan kekuatan gabungan elemen petir, es, dan api. Di sisi lain, Infernal Phoenix Descent Zhao Feng mengoyak angkasa, membawa kehancuran dalam wujud burung ilahi yang terbakar oleh api surgawi.

Dua kekuatan kolosal itu bergerak cepat, siap menghancurkan apapun yang berada di jalurnya. Tanah mulai runtuh. Awan menggulung liar. Udara bergetar hebat.

Namun sebelum kedua kekuatan itu saling bertubrukan, Lynx akhirnya memilih bergerak.

"Berubah!" serunya pelan, namun penuh semangat, menirukan tokoh film favoritnya yang sering ia tonton di dunia asalnya.

Artefak di sabuknya bergetar lalu aktif. Serat-serat hitam mengalir seperti cairan logam, merayap cepat dan membalut tubuhnya. Dalam sekejap, tubuh Lynx diselimuti lapisan baju tempur perpaduan pakaian prajurit modern dengan ilusi spiritual tingkat tinggi. Helm hitam pekat menutup wajahnya, visor biru pucat menyala lembut di baliknya. Pakaian tempurnya tampak menyatu dengan kulit, bergerak dengan keluwesan luar biasa namun memiliki daya tahan yang tak terukur.

Bagi orang yang berasal dari jaman modern, mereka akan mengenali pakaian itu hanyalah baju tempur biasa yang sering digunakan oleh para prajurit bayaran, namun bagi dunia kultivasi, sosoknya seperti dewa perang dari zaman lain.

Dalam sepersekian detik, Lynx lenyap dari tempatnya berdiri. Para immortal bahkan tak sempat melihat pergerakannya. Yang mereka tahu, saat mereka memandang kedepan, dia sudah berada tepat di depan tombak energi gabungan yang melesat ke langit.

Tanpa aba-aba, Lynx mengayunkan tinjunya tanpa menggunakan kekuatan spiritual.

Tinju itu mengenai sisi tombak yang terbuat dari petir, api, dan es. Sebuah dentuman nyaring terdengar, seperti dunia runtuh. Arah tombak langsung membelok, keluar dari lintasannya, lalu naik jauh ke angkasa sebelum akhirnya meledak hebat di ketinggian, menciptakan ledakan energi yang mencerai-beraikan awan dan menciptakan pusaran langit baru. Tapi tidak menyentuh daratan.

Belum sempat para immortal mencerna kejadian itu, Lynx kembali bergerak.

Kali ini dia muncul tepat di depan phoenix raksasa milik Zhao Feng.

Dengan satu tarikan napas pendek, ia mengepalkan tangan dan menghantam dada phoenix itu.

Boom!

Burung ilahi itu terhenti sejenak di udara sebelum tubuhnya mulai retak seperti kaca, lalu meledak menjadi ribuan pecahan api surgawi. Ledakannya tak sedahsyat yang dibayangkan, karena Lynx tidak menggunakan energi spiritual untuk menahannya, hanya kekuatan fisik murni. Namun dampaknya tetap cukup besar untuk membuat langit terbelah sejenak dan tanah terhuyung bagai ingin runtuh.

Ledakan yang semestinya mengakhiri dan menentukan hasil pertarungan di antara para immortal, kini justru dihentikan oleh satu orang.

Lynx tak berhenti.

Ia kembali bergerak, dan dalam sekejap, ia berdiri di hadapan Yi Wushen yang masih terengah setelah melepaskan teknik pamungkas.

Mei Lianhua dan Gong Nanlie di belakangnya ikut terperangah. Mereka bertiga memandangi sosok misterius itu dengan ekspresi campuran antara tak percaya dan takut. Tak satu pun dari mereka bisa mengenali siapa orang di balik helm bercahaya biru itu. Namun aura yang terpancar jelas terasa sebagai immortal tingkat akhir. Tubuh mereka bertiga bergetar, insting mereka mengatakan kekuatan sosok misterius didepannya jauh lebih kuat dari siapapun yang pernah mereka hadapi.

"A-apa itu manusia...?" bisik Mei Lianhua, napasnya tercekat.

"Dia... memukul teknik kita... dengan tangan kosong...?" Gong Nanlie tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Urat di lehernya menegang karena ngeri.

Yi Wushen sendiri terpaku. Matanya membelalak. Otaknya mencoba memahami bagaimana seluruh teknik mereka bisa dilenyapkan begitu saja oleh satu orang dengan santai, yang bahkan terlihat tak mengeluarkan energi spiritual sedikit pun.

Namun sebelum mereka sempat bergerak atau membuka mulut, suara Lynx terdengar tenang dari balik helmnya.

"Kalian istirahatlah dulu."

Gerakannya terlihat ringan dan santai. Namun kekuatannya jauh dari biasa. Satu tendangan mendarat di perut mereka bertiga, membuat tubuh mereka terhuyung. Dalam gerakan lanjutan yang nyaris tak terlihat, Lynx menghantam tengkuk mereka satu per satu, dengan tepat, bersih, dan cepat.

Tak sempat melawan, ketiganya langsung tumbang tak sadarkan diri.

Lynx menangkap tubuh mereka sebelum jatuh ke tanah, lalu dengan lembut meletakkan mereka di sisi rerumputan yang belum terbakar oleh energi sebelumnya. Lynx tersenyum dan menggelengkan kepala melihat para pria tua dan seorang wanita bersikap keras kepala. "Ada dendam apa sebenarnya di antara mereka. Tapi apapun itu, belum waktunya untuk membicarakan hal itu."

Dari kejauhan, Leluhur Sekte Api Langit berdiri terpaku. Tubuhnya kaku, napasnya sedikit bergetar. Ia telah merasakan sendiri kekuatan Yi Wushen dan kedua rekannya. Ia tahu seberapa besar tingkat kehancuran yang bisa mereka hasilkan. Namun sekarang...

"Xiao Ling..." bisiknya pelan, dia memandangi sosok Lynx dalam wujud Plasura. "Artefak yang kamu gunakan sangat mengerikan. Jika artefak ini jatuh ketangan yang salah, siapakah yang bisa menghentikannya."

Mata leluhur itu memancarkan rasa kagum dan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Dingin menyelimuti punggungnya, bukan karena takut, tapi karena sadar, bahwa di dunia ini masih ada seseorang... yang berdiri jauh di atas para immortal.

Leluhur Sekte Api Langit turun perlahan dari udara, jubahnya yang penuh simbol api berkibar lembut tertiup angin. Langkahnya mendekati Lynx yang kini telah kembali ke wujud semula. Artefak di sabuk Lynx telah tenang, pakaian tempur menghilang, menyisakan sosok muda dengan pakaian jubah sederhana dan tatapan teduh.

"Xiao Ling, bagaimana mereka?" tanya leluhur dengan nada tenang, meski sorot matanya masih belum sepenuhnya lepas dari kekaguman.

"Mereka baik-baik saja," jawab Lynx sambil melirik ke arah tiga tubuh yang terbaring di rerumputan. "Saya hanya membuat mereka pingsan supaya tidak ikut campur lebih jauh. Jadi kita bisa memeriksa tempat ini dengan tenang."

Leluhur menarik napas panjang melihat sikap tubuh Xiao Ling dan cara berbicara yang terlalu segan, lalu tersenyum canggung. "Xiao Ling, kurasa kamu tak perlu bersikap terlalu sopan padaku. Di dunia ini, kekuatan lebih dihormati dari usia. Terus terang, aku malah merasa malu kalau kamu terus berbicara terlalu hormat seperti itu." Ucapan itu diiringi dengan tawa pelan, namun tak mampu menyembunyikan butiran keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya.

Lynx mengangkat alis lalu tersenyum kecil. Ia sudah sering mendengar kalimat serupa dari lelaki tua itu. Namun tetap saja, ada rasa enggan untuk sepenuhnya mengabaikan sikap hormat. Meskipun begitu, kali ini ia ingin memastikan.

"Leluhur, apakah Anda yakin?" tanyanya dengan suara lebih santai namun masih bersikap segan. "Anda tahu sendiri... kekuatanku yang sebenarnya berada di ranah apa, dan apa penyebab kekuatan yang ku miliki ini."

Leluhur mengangguk perlahan, lalu melambaikan tangan seolah menyuruh Lynx tak usah ragu.

"Tidak masalah, tidak masalah. Apapun caramu mendapatkannya, kamu tetap memiliki kemampuan untuk mengendalikannya. Itu sudah cukup membuktikan nilaimu." Ucapannya berhenti di tengah jalan. Alisnya mengerut pelan, seolah ada sesuatu yang menggangu pikirannya.

Lynx memperhatikan perubahan ekspresi itu. "Tetapi apa, Leluhur? Katakan saja. Aku juga akan mulai bersikap biasa kepada Anda mulai sekarang."

Leluhur menghela napas. Suaranya agak pelan, seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang kata.

"Maaf sebelumnya... mungkin kata-kata pria tua ini agak lancang. Tapi kuharap kamu tidak tersinggung." Ia menatap Lynx lekat-lekat, memastikan bahwa pemuda itu siap mendengarkan. "Artefakmu... terlalu kuat. Aku hanya khawatir, bagaimana jika suatu hari artefak itu dicuri. Siapa yang bisa menghadapinya?"

Lynx tertawa kecil, tenang dan penuh percaya diri. Pertanyaan itu sudah lama ia duga akan muncul. Ia bahkan sudah menyiapkan jawaban yang matang.

"Artefak ini sudah membentuk ikatan jiwa denganku. Siapapun yang mencurinya tidak akan bisa menggunakannya, apa pun caranya," jelasnya dengan santai, nada suaranya kini benar-benar setara dengan lelaki tua di hadapannya. Ia tidak lagi bersikap formal atau segan. Dunia kultivasi tidak mengenal usia, hanya mengenal siapa yang bisa berdiri paling tinggi.

